"Ketika saya masih SMP, ayah saya pensiun sebagai karyawan swasta. Tanpa pesangon. Sejak hari itu saya harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri, keluarga dan lima orang adik. Alhamdulillah karena MANDIRI saya bisa menyekolahkan kelima adik saya hingga menjadi sarjana semuanya.....Hari ini, setelah saya MANDIRI, saya bisa memberikan rumah kepada ke-empat anak saya dan Insya Allah menjamin masa depan mereka. Ketika kita MANDIRI di saat muda, maka kita bisa menjamin masa depan anak-anak kita. Sendainya kita belum berhasil di saat muda dan yang berhasil MANDIRI kemudian adalah anak-anak kita,
maka mereka akan menolong kita disaat kita tua. Apabila dalam satu keluarga ada SATU ORANG yang MANDIRI secara otomatis EKONOMI dan STATUS SOSIAL keluarga tersebut akan TERANGKAT" Valentino Dinsi Ketua Gerakan Nasional AYO MANDIRI Penulis Buku Best Seller "Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian". Sekelumit kisah masa lalu saya diatas menyeruak takkala ayah saya meninggal 4 bulan lalu. Perasaan sedih, gembira, terharu campur aduk jadi satu. Sedih apabila teringat masa-masa dulu. Teringat bagaimana kami tinggal dalam sebuah kamar ukuran 4x5 di Kemayoran. Kamar kumuh lagi gelap yang kami tinggali selama bertahun-tahun. Kamar kecil penuh kenangan disana tinggal 9 orang, ayah, ibu, saya dan 6 orang saudara saya yang lain. Sedih karena ayah, orang tua yang saya hingga hari ini tidak pernah mengenalnya secara baik,”Siapa ayah saya sebenarnya?” karena memang ayah tak pernah ada untuk kami. Ayah terlalu sibuk bekerja, membangun rumah dari satu provinsi ke provinsi yang lainnya. Sangat jarang pulang kerumah. Tak pernah mengajak kami pergi bersama. Hampir tak pernah menemani kami bermain dan belajar. Satu-satunya kenangan yang tersisa hanya hantaman rotan, ikat pinggang, kabel, selang, butut pari mendera tubuh kami. Ya itu semua mungkin karena kenakalan kami. Kenakalan seorang bocah laki-laki yang terlalu banyak ingin tau. Tiba-tiba saja diusianya yang tua, ia kembali ke rumah. Ia datang ditengah-tengah kami semua dengan segala ketak berdayaannya. Semua adik dan abang menolak? Wajar karena selama ini ia tidak pernah hadir di tengah kami. Jauh entah dimana berada? Ia membiarkan kami tumbuh sendiri-sendiri. Terpencar, berserakan bagai sampah. Sebagian tinggal dengan tante, om dan saya sendiri tinggal berpindah-pindah dari satu rumah saudara ke rumah saudara yang lain, hingga akhirnya menetap di rumah Oma. Setiap hari menyapu rumah berhalaman luas hampir 1000 meter. Mengepel lantai, mencuci pakaian orang serumah, pergi belanja kepasar, kewarung dan perintah-perintah orang-orang dewasa lainnya yang tidak bisa dibantah. Warga kelas tiga! Itulah perasaan saya saat itu. Tapi, keadaan seperti itulah yang telah mendidik jiwa dan mental saya menjadi seorang pejuang. Seorang yang tak mau lagi dikalahkan, disepelekan, dianggap sampah, SI BUTA DARI GUA HANTU – begitu mereka mengolok-olok saya (karena memang saat kecil dulu kaca mata saya + 11, dan kalau mereka rebut, saya menjadi seperti orang buta, tak berdaya..........). Dan memang sekarang keadaan telah berbalik 180 derajat. Ya begiitulah kehidupan, Allah pergilirkan diantara manusia. Mereka yang dulu diatas sekarang sudah turun kebawah bahkan sebagian besar sudah benar-benar berada di bawah, karena harta benda yang dulu dibangga-banggakan sudah habis semua dijual sebagai harta warisan. Sementara ilmu dan ketrampilan tak dimiliki. Terbayanglah sudah kehidupan seperti apa yang akan menjemput di depan sana! Gembira ! Ketika kemudian saya dapat meyakinkan abang dan adik-adik,”Kita tidak lahir dari baru. Ia tepat ayah kita. Meskipun ia lalai dahulu maafkanlah dia.” Akhirnya Ayah meninggal di rumah saya di Kelapa Dua Cimanggis dengan mengucapkan akhir kalimat terbaik,”Asyhadu An Laa Ilahailla Allah wa asyhadu ana Muhammad Rasulullah.” Ia lupa kepada Rabbnya..........Lupa, lupa, lupa...............ya lupa yang lama sekali. Sehingga diusianya yang ke 63 barulah ia mulai kembali ingat kepada Rabbnya. Ketika ia sudah tak berdaya lagi. Jabatan sudah tak ada lagi, harta tak ada lagi, anak dan istri sudah tak ada disisinya lagi.............. Selama berpuluh-puluh tahun saya mendoakan dan mengingatkannya untuk fafirru illa Allah......bersegera menuju ampunan Allah. Berpuluh-puluh tahun saya mencoba menghancurkan kesombongan dirinya............... Akhinrya di hari Jum’at 31 Juli 2009 tepat jam 14.15 ayahpun kembali kepadaNya diusia 73 tahun. Ia kembali kepada pencipta alam semesta. Sedih, tapi gembira! Karena kata-kata terakhir yang masih ku ingat darinya adalah ,”Asyhadu An Laa Ilahailla Allah wa asyhadu ana Muhammad Rasulullah.” Selamat jalan ayah. Semoga Allah mengampuni dosamu dan menjadikan anak-anakmu anak yang shaleh dan sholihah yang kelak akan menerangi kuburmu dengan cahaya doa-doa mereka. __00__ Setiap kita punya cerita. Ya cerita tentang kehidupan kita sendiri. Cerita tentang masa lalu.........dengan segala suka dukanya............. Namun saya percaya, siapapun dan apapun keadaan kita saat ini, kita ingin menyenangkan kedua orang tua kita. Kita ingin berbakti kepada mereka berdua. Kita juga ingin mengembirakan keluarga kita............bagaimanapun caranya. Itulah fitrah sang jiwa.........Semua itu hanya bisa dicapai apabila kita MANDIRI dan selalu dekat kepada Allah yang memang MAHA MANDIRI. AYO MANDIRI ! Satu Keluarga Satu Pengusaha Last update : 13-01-2010 15:50
|