Home
Thursday, 09 September 2010
Search the Web
Who's Online
We have 10 guests online
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
The IEF
What They Said

DR. Bambang N Rachmadi (Pemilik Mc Donald Indonesia)

"Untuk Valentino.. Dengan nama seperti ini Kamu seharusnya menjadi THE BEST di Bidangnya seperti Valentino Rossi, Valentino Fashion, dan sebagainya. SEMOGA"

Puspo Wardoyo (Pemilik Wong Solo)

"Dalam perjuangan bisnis, tirulah apa-apa yang pernah saya sampaikan."

Tung Desem Waringin (Indonesia Authorized Anthony Robbins & Robert Kiyosaki)

"Buku WAJIB untuk orang DAHSYAT"

Prof. Dr. Usman Chatib Warsa (mantan Rektor Universitas Indonesia)

"... Sebuah karya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia entrepreneurship di Indonesia. Kami percaya buku tersebut merupakan buku yang sangat bagus dan baik untuk dibaca dan diketahui isinya oleh mereka yang sangat ingin sukses dan kaya ..."

Tanri Abeng

Valentino The Most presticious people

Tukul Arwana

Manusia yang satu ini memang gila... kesan itu yang saya tangkap

Moh. Fahmi (Penulis)

"Pak Valentino, saya saat ini sedang membaca buku anda: 'Jangan Mau Seumur..' comment saya Par Execellent
 
Visitor Counter
Today88
Yesterday82
Week368
Month937
All146124

(C) Fliesenstadt
Click to join LetsGoIndonesia

Click to join LetsGoIndonesia

customer :


Bookmark and Share
Mengapa dalam Satu Keluarga harus ada Satu Pengusaha ? PDF Print E-mail
 

By Posted by admin under bisnis, on 30-11-2010 08:00  

Views : 480    

Favoured : 29

Published in : Channel Highlight, Enterpreneur


 "Ketika saya masih SMP, ayah saya pensiun sebagai karyawan swasta. Tanpa pesangon. Sejak hari itu saya harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri, keluarga dan lima orang adik. Alhamdulillah karena MANDIRI saya bisa menyekolahkan kelima adik saya hingga menjadi sarjana semuanya.....Hari ini, setelah saya MANDIRI, saya bisa memberikan rumah kepada ke-empat anak saya dan Insya Allah menjamin masa depan mereka. Ketika kita MANDIRI di saat muda, maka kita bisa menjamin masa depan anak-anak kita. Sendainya kita belum berhasil di saat muda dan yang berhasil MANDIRI kemudian adalah anak-anak kita, maka mereka akan menolong kita disaat kita tua. Apabila dalam satu keluarga ada SATU ORANG yang MANDIRI secara otomatis EKONOMI dan STATUS SOSIAL keluarga tersebut akan TERANGKAT"

 

Valentino Dinsi
Ketua Gerakan Nasional AYO MANDIRI
Penulis Buku Best Seller "Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian".

Sekelumit kisah masa lalu saya diatas menyeruak takkala ayah saya meninggal 4 bulan lalu. Perasaan sedih, gembira, terharu campur aduk jadi satu. Sedih apabila teringat masa-masa dulu. Teringat bagaimana kami tinggal dalam sebuah kamar ukuran 4x5 di Kemayoran. Kamar kumuh lagi gelap yang kami tinggali selama bertahun-tahun. Kamar kecil penuh kenangan disana tinggal 9 orang, ayah, ibu, saya dan 6 orang saudara saya yang lain.

Sedih karena ayah, orang tua yang saya hingga hari ini tidak pernah mengenalnya secara baik,”Siapa ayah saya sebenarnya?” karena memang ayah tak pernah ada untuk kami. Ayah terlalu sibuk bekerja, membangun rumah dari satu provinsi ke provinsi yang lainnya. Sangat jarang pulang kerumah. Tak pernah mengajak kami pergi bersama. Hampir tak pernah menemani kami bermain dan belajar. Satu-satunya kenangan yang tersisa hanya hantaman rotan, ikat pinggang, kabel, selang, butut pari mendera tubuh kami. Ya itu semua mungkin karena kenakalan kami. Kenakalan seorang bocah laki-laki yang terlalu banyak ingin tau.

Tiba-tiba saja diusianya yang tua, ia kembali ke rumah. Ia datang ditengah-tengah kami semua dengan segala ketak berdayaannya.

Semua adik dan abang menolak? Wajar karena selama ini ia tidak pernah hadir di tengah kami. Jauh entah dimana berada? Ia membiarkan kami tumbuh sendiri-sendiri. Terpencar, berserakan bagai sampah. Sebagian tinggal dengan tante, om dan saya sendiri tinggal berpindah-pindah dari satu rumah saudara ke rumah saudara yang lain, hingga akhirnya menetap di rumah Oma. Setiap hari menyapu rumah berhalaman luas hampir 1000 meter. Mengepel lantai, mencuci pakaian orang serumah, pergi belanja kepasar, kewarung dan perintah-perintah orang-orang dewasa lainnya yang tidak bisa dibantah.

Warga kelas tiga! Itulah perasaan saya saat itu.

Tapi, keadaan seperti itulah yang telah mendidik jiwa dan mental saya menjadi seorang pejuang. Seorang yang tak mau lagi dikalahkan, disepelekan, dianggap sampah, SI BUTA DARI GUA HANTU – begitu mereka mengolok-olok saya (karena memang saat kecil dulu kaca mata saya + 11, dan kalau mereka rebut, saya menjadi seperti orang buta, tak berdaya..........).

Dan memang sekarang keadaan telah berbalik 180 derajat. Ya begiitulah kehidupan, Allah pergilirkan diantara manusia. Mereka yang dulu diatas sekarang sudah turun kebawah bahkan sebagian besar sudah benar-benar berada di bawah, karena harta benda yang dulu dibangga-banggakan sudah habis semua dijual sebagai harta warisan. Sementara ilmu dan ketrampilan tak dimiliki. Terbayanglah sudah kehidupan seperti apa yang akan menjemput di depan sana!

Gembira ! Ketika kemudian saya dapat meyakinkan abang dan adik-adik,”Kita tidak lahir dari baru. Ia tepat ayah kita. Meskipun ia lalai dahulu maafkanlah dia.”

Akhirnya Ayah meninggal di rumah saya di Kelapa Dua Cimanggis dengan mengucapkan akhir kalimat terbaik,”Asyhadu An Laa Ilahailla Allah wa asyhadu ana Muhammad Rasulullah.”

Ia lupa kepada Rabbnya..........Lupa, lupa, lupa...............ya lupa yang lama sekali. Sehingga diusianya yang ke 63 barulah ia mulai kembali ingat kepada Rabbnya. Ketika ia sudah tak berdaya lagi. Jabatan sudah tak ada lagi, harta tak ada lagi, anak dan istri sudah tak ada disisinya lagi..............

Selama berpuluh-puluh tahun saya mendoakan dan mengingatkannya untuk fafirru illa Allah......bersegera menuju ampunan Allah. Berpuluh-puluh tahun saya mencoba menghancurkan kesombongan dirinya...............

Akhinrya di hari Jum’at 31 Juli 2009 tepat jam 14.15 ayahpun kembali kepadaNya diusia 73 tahun. Ia kembali kepada pencipta alam semesta. Sedih, tapi gembira! Karena kata-kata terakhir yang masih ku ingat darinya adalah ,”Asyhadu An Laa Ilahailla Allah wa asyhadu ana Muhammad Rasulullah.”

Selamat jalan ayah. Semoga Allah mengampuni dosamu dan menjadikan anak-anakmu anak yang shaleh dan sholihah yang kelak akan menerangi kuburmu dengan cahaya doa-doa mereka.

__00__

Setiap kita punya cerita. Ya cerita tentang kehidupan kita sendiri. Cerita tentang masa lalu.........dengan segala suka dukanya.............

Namun saya percaya, siapapun dan apapun keadaan kita saat ini, kita ingin menyenangkan kedua orang tua kita. Kita ingin berbakti kepada mereka berdua. Kita juga ingin mengembirakan keluarga kita............bagaimanapun caranya. Itulah fitrah sang jiwa.........Semua itu hanya bisa dicapai apabila kita MANDIRI dan selalu dekat kepada Allah yang memang MAHA MANDIRI.


AYO MANDIRI ! Satu Keluarga Satu Pengusaha

Last update : 13-01-2010 15:50

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.8 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
CHANNEL HIGHLIGHTS
Enterpreneur
Motivasi
Bisnis
Legal
Spiritual
Internet Marketing

Entrepreneur ‘s Coach Corner
Need some advise? Ask your question to an expert ! klik disini

Valentino Dinsi, MM, MBA
Expert di bidang entrepreneurrship dan pengembangan bisnis baru serta inventor bagi pegawai yang ingin jadi pengusaha
 

AYO MANDIRI
inpsipringbox
Random Quotes

Lebih memalukan untuk tidak dipercayai daripada ditipu oleh teman sendiri.

anonim

SANG MAESTRO
PENGUSAHA MANDIRI