Home
Sunday, 01 August 2010
Search the Web
Who's Online
We have 23 guests online
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
The IEF
What They Said

DR. Bambang N Rachmadi (Pemilik Mc Donald Indonesia)

"Untuk Valentino.. Dengan nama seperti ini Kamu seharusnya menjadi THE BEST di Bidangnya seperti Valentino Rossi, Valentino Fashion, dan sebagainya. SEMOGA"

Puspo Wardoyo (Pemilik Wong Solo)

"Dalam perjuangan bisnis, tirulah apa-apa yang pernah saya sampaikan."

Tung Desem Waringin (Indonesia Authorized Anthony Robbins & Robert Kiyosaki)

"Buku WAJIB untuk orang DAHSYAT"

Prof. Dr. Usman Chatib Warsa (mantan Rektor Universitas Indonesia)

"... Sebuah karya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia entrepreneurship di Indonesia. Kami percaya buku tersebut merupakan buku yang sangat bagus dan baik untuk dibaca dan diketahui isinya oleh mereka yang sangat ingin sukses dan kaya ..."

Tanri Abeng

Valentino The Most presticious people

Tukul Arwana

Manusia yang satu ini memang gila... kesan itu yang saya tangkap

Moh. Fahmi (Penulis)

"Pak Valentino, saya saat ini sedang membaca buku anda: 'Jangan Mau Seumur..' comment saya Par Execellent
 
Visitor Counter
Today108
Yesterday140
Week1027
Month108
All141396

(C) Fliesenstadt
Click to join LetsGoIndonesia

Click to join LetsGoIndonesia

customer :


Bookmark and Share
Masa Depan Keluarga PDF Print E-mail
 

By administrator, on 26-08-2009 08:00

Views : 687    

Favoured : 102

Published in : Channel Highlight, Spiritual


“Keluarga telah mati, kecuali pada tahun pertama atau tahun kedua selama mengasuh anak.” (William wolf - psikolog)
oleh: nilna iqbal - http://pustakaNilna.com

Para kritikus sosial sedang punya kesempatan baik berspekulasi tentang masa depan keluarga. “Keluarga akan mendekati titik kepunahan total,” kata Ferdinand Lunberg, pengarang The Coming World Transformation.

Dulu, ikatan keluarga amat mesra. Kekerabatan pun berlangsung sepanjang usia. Ayah, ibu, kakek dan nenek tiap hari kumpul bersama. Hidup damai, tenteram, tak tergesa-gesa. Itulah ciri peradaban masyarakat pertanian setiap negara.

Lalu masuk era industrialisasi, berubahlah suasana. Hubungan manusia dengan tempat pemukiman terancam sirna. Manusia pun mulai menjalani kehidupan serba keras, lapar, berbahaya, dan mengelana. Tapi kendati demikian, fungsi rumah (meski hanya sebuah gubuk) tetaplah jadi tempat berlindung utama.

Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah. “Seek home for rest, for home is best.” Carilah rumah untuk istirahat, sebab rumah itu paling ramah. Begitu nasehat Thomas Tussers dalam Instructions to housewifery, sebuah buku petunjuk abad ke-16. Yang lain lagi, “A man’s home is his castle …” (rumah seseorang adalah istananya). ”Home, sweet home …” (rumahku, rumah yang manis). Begitu mesra hubungan manusia dengan rumahnya.

Lalu datang industrialisasi modern. Ia kian menuntut adanya massa pekerja yang siap dan mampu meninggalkan tanahnya untuk mencari pekerjaan dan pindah tempat berkali-kali. Ini berbeda sekali dengan masyarakat tani yang cenderung menetap menetap untuk jangka waktu yang lama. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan tempat tinggalnya.

Akibatnya, keluarga besar (extended family) termasuk di dalamnya ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek dan nenek, sedikit demi sedikit terpaksa “merampingkan tubuhnya”. Timbullah apa yang dinamakan “keluarga inti” (nuclear family). Itulah dia, suatu unit keluarga yang ringkas, portable (mudah dibawa) kemana-mana. Ia hanya terdiri dari suami, istri dan sejumlah kecil anak mereka. Keluarga ini, yang jauh lebih mobile sifatnya dari keluarga besar tradisional, jadi model standar di semua negara. Termasuk di Indonesia.

Dampaknya ternyata juga bukan hanya memperenggang hubungan manusia dengan rumahnya, tetapi juga memperpendek tali kasih manusia dengan sesama manusia lainnya. Termasuk dengan sesama anggota keluarga. Mulailah banyak yang merasakan hidup bagai dalam losmen belaka. Tamu-tamunya jarang berjumpa, seolah-olah tidak saling mengenal. Tak ada waktu untuk membicarakan masalah-masalah bersama. Tak ada pula aktivitas yang ditujukan untuk kepentingan bersama.

Kegiatan mondar-mandir, bermusafir dan pindah tempat tinggal, akhirnya jadi kebiasaan hidup. Makin besar mobilitas, makin banyak perjumpaan tatap muka yang singkat. Kontak antar manusia jadi sepintas, yang masing-masing merupakan hubungan tertentu yang fragmentaris dan dalam waktu yang amat terbatas. Kebiasaan ini pun terbawa dalam kontak keluarga. Tentu ya … sentuhan kasih, akhirnya tinggal menunggu senja tiba.

Inang-Inang Pengasuh Anak

Di waktu lampau, paman, bibi, nenek dan kakek mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan jiwa seorang anak. Mereka turut membina, melatih dan mengasuh si anak, terkadang bahkan sampai tahap dewasa.

Lihatlah zaman sekarang. Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak menjadi lebih penting kedudukannya. Paman, bibi, kakek dan nenek sudah tak lagi memberikan perlindungan berarti seperti dulu. Dengan demikian keluarga inti lah yang menjadi sumber utama pembentukan watak, akhlak, kebiasaan dan perilaku anak. Ayah dan ibu, dua-duanya masih mampu dan mau mendidik anak-anaknya.

Akan tetapi, ketika laju perkembangan kian deras, pergeseran mulai membuka suasana baru. Kesibukan pun mulai memaksa ayah menjalani hidup lebih banyak di luar rumah. Pergi pagi, pulang malam. Kadang tak sempat bercengkerama dengan istri dan anak-anaknya. Masih untung, ada sang ibu, yang siap mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Lalu lahirlah gerakan emansipasi. Para ibu mulai merasa “dipingit” kalau terlalu banyak di rumah. Tuntutan itu bergema dimana-mana, sampai ke pelosok desa. Tak dapat dielakkan lagi, akhirnya ayah dan ibu, dua-duanya, keluar dari rumah, sama-sama bekerja. Waktu interaksi antara ayah-ibu dengan anak-anaknya makin luntur dalam rona kelabu senja.

Urusan anak, sejak itu, mulai diserahkan sepenuhnya kepada orang lain. Mulailah masuk anggota keluarga baru, inang pengasuh (merangkap pembantu atau tidak) dalam struktur keluarga. Inang pengasuh itu, saat ini telah menggantikan fungsi ibu.

Selain itu fungsi orang tua lainnya yang juga diserahkan kepada orang lain (atau pihak luar) adalah fungsi sebagai pendidik anggota keluarga. Fungsi ini kini telah begitu mapan. Telah banyak keluarga yang menyerahkan dan mempercayakan pembinaan anaknya kepada lembaga pendidikan, sepenuhnya, sehingga perhatian dan kontrol ayah-ibu luput begitu saja.

Orang Tua Profesional

Apakah yang bakal terjadi di masa depan? Kalau kecenderungan ini masih tetap demikian, bisa diperkirakan mobilitas hidup manusia akan semakin tinggi. Tuntutan “survive” dalam kancah kehidupan secara layak menimbulkan alam persaingan semakin kejam. Karena itu, bisa jadi pada sebagian keluarga, proses perampingan keluarga itu akan terus berlanjut, yaitu keluarga tanpa anak. Keluarga hanya tinggal komponennya yang paling elementer, seorang pria dan seorang wanita.

Dua orang itu, mungkin dengan karir yang sepadan, akan terbukti lebih efisien untuk mengarungi pendidikan dan lika liku sosial, melalui perubahan pekerjaan dan relokasi geografis global, dibanding keluarga tradisional yang sering direpoti anak.

Pada masa seperti itu, ada kemungkinan lahirlah jenis profesi baru. Profesi yang khusus mengasuh dan mendidik anak secara lebih baik, yaitu “keluarga profesional”.

Kalau itu benar-benar terjadi, muncullah dua jenis orang tua: orang tua biologis dan orang tua profesional. Orang tua biologis adalah yang melahirkan anak, sedangkan orang tua profesional adalah yang mengasuh, membesarkan dan mendidik anak.

Atau pada sebagian keluarga ada pula yang memilih melakukan suatu kompromi berupa penundaan waktu beranak. Gejala ini terlihat dari banyaknya pria atau wanita yang terombang-ambing dalam konflik antara komitmen pada karir atau komitmen pada anak. Maka mulai banyak pasangan akan menghindari persoalan itu dengan menunda seluruh kewajiban mengasuh anak, bisa jadi sampai sesudah pensiun.

Andaikata diberi kesempatan, banyak orang tua yang makin senang hati menyerahkan tanggung jawab keibu-bapakan mereka kepada orang lain, bukan karena tidak memiliki rasa tanggungjawab atau kasih sayang. Mereka pusing, bingung, terpojok. Mereka mulai insaf bahwa mereka sudah tak mampu menunaikan kewajiban. Dalam keadaan ekonomi berkecukupan dan dengan tersedianya “jasa orang tua profesional” yang (berijazah mungkin) dan telah berketrampilan khusus (tentang parenting), banyak orang tua biologis tidak hanya akan senang menyerahkan anaknya kepada mereka, bahkan memang memandang langkah itu sebagai suatu tindakan kasih sayang kepada masa depan anaknya.

Lalu jangan heran, kalau suatu hari nanti, kita akan baca sebuah iklan,

“Mengapa kewajiban sebagai orang tua membelenggu anda? Percayakanlah kami mengasuh anak Anda menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berhasil. Keluarga profesional ‘Happy Family’ terdiri dari seorang ayah usia 39 tahun, ibu 36 tahun, seorang nenek 57 tahun. Paman dan bibi masing-masing 30 tahun dan tinggal bersama. Unit empat-anak masih dapat menerima seorang anak lagi usia 6 – 8 tahun. Makanan teratur, melebihi standar pemerintah. Semua orang dewasa sudah berijazah parenting berlisensi. Orang tua biologis boleh mengunjungi anak secara berkala. Ada kesempatan pula untuk saling kontak via telpon. Anak boleh berlibur dengan orang tua biologis. Kontrak minimal 5 tahun. Rincian lebih lanjut, silakan hubungi telpon 1234567890.”

Bagaimana, Anda jadi tertarik baca iklan seperti itu?

Salam
Nilna -------------------------

Last update : 24-08-2009 13:52

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.8 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
CHANNEL HIGHLIGHTS
Enterpreneur
Motivasi
Bisnis
Legal
Spiritual
Internet Marketing

Entrepreneur ‘s Coach Corner
Need some advise? Ask your question to an expert ! klik disini

Valentino Dinsi, MM, MBA
Expert di bidang entrepreneurrship dan pengembangan bisnis baru serta inventor bagi pegawai yang ingin jadi pengusaha
 

AYO MANDIRI
inpsipringbox
Random Quotes

Seorang lelaki boleh dikalahkan tetapi tidak boleh dimusnahkan.

anonim

SANG MAESTRO
PENGUSAHA MANDIRI