|
Siapa bilang Ibadah itu lebih capek?
Rekan saya dari New York suatu ketika pergi ke Indonesia untuk membentuk tim
programmer buat bisnisnya di Amerika. Dia percaya tenaga Indonesia itu
handal dan berkualitas, sementara biaya memang relatif jauh lebih hemat
dibandingkan di Amerika. Pekerjaan bisa dikirim lewat internet, karena
kebetulan data yang dibutuhkan berbentuk digital. Ketika proses mewawancara
para pelamar, dia memberikan pengantar yang menekankan perbedaan bekerja
saja dengan bekerja sebagai ibadah. Dia adalah muallaf yang taat.
Kira-kiranya begini terjemah bebasnya (dia ngomong dalam bahasa Inggris, dan
kami manggut-manggut pura-pura ngerti), ³Sekedar bekerja, dengan bekerja
sebagai ibadah itu sama capeknya. Seorang programmer sibuk bekerja keras
hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya. Dan programnya mungkin juga
tidak jalan. Programmer lain juga bekerja keras hingga malam, sampai hampir
pecah kepalanya, namun dia berniat kerja sebagai ibadah. Hasilnya program
mungkin juga tidak jalan, tapi dia mendapatkan pahala dari kerja kerasnya
tersebut. Sama-sama kerja keras, sama-sama capek, tapi hasilnya berbeda.²
Begitulah kira-kira yang dia sampaikan waktu itu, saya agak lupa persisnya,
tapi kira-kira begitulah isinya.
Kerja dan ibadah itu sama capeknya. Tapi hasilnya beda, yang satu hanya
duniawi (itupun sering luput), yang satunya plus ukhrowi mendapat hasil
akhirat juga. Nah, bila Anda bekerja dengan tujuan plus ibadah, maka
BERBAHAGIALAH. Anda sama capeknya dengan teman Anda sekedar bekerja, namun
Anda mendapat pahala yang tidak akan didapatkan bila hanya sekedar bekerja.
Di manakah perbedaannya?
Lalu apa yang membedakan nganggur, kerja, dan ibadah, kalau akibatnya
sama-sama capek?
Bedanya nganggur dengan kerja itu hanyalah MENAMBAHKAN TUJUAN PRODUKTIF dari
apa yang kita lakukan. Bengong di pinggir jalan bila kemudian diberi tujuan
untuk mengamati perilaku konsumen bisa bernilai kerja. Sama-sama duduk di
pinggir jalan, namun karena ditambahkan tujuan produktif maka kegiatan itu
menjadi bernilai.
Lalu apa bedanya bekerja dengan ibadah? Beribadah itu bukan hanya masalah
shalat. Semua yang kita lakukan di dunia asalkan selaras dengan perintah
Tuhan, maka kegiatan itu bisa bernilai ibadah. Yang perlu kita lakukan
hanyalah MENAMBAHKAN NIAT IKHLAS dalam kerja kita itu.
Apa itu ikhlas?
Ikhlas itu artinya mengharapkan balasan sesuai kehendak Tuhan. Jadi kalau
kita sudah usaha keras, bersungguh-sungguh, dengan niat baik, dan ridha/rela
dengan apa pun hasilnya, itu sudah ikhlas. Kalau kita masih mengharapkan
hasil sesuai mau kita sendiri, dan marah-marah kalau hasilnya tidak sesuai,
berarti itu belum ikhlas. Tugas manusia itu menyempurnakan usaha, hasilnya
sesuai dengan aturan Tuhan, kadang seperti yang kita perkirakan, sering pula
beda jauh dari yang kita harapkan. Kalau kita rela dengan hasilnya maka kita
ikhlas.
Jadi, berusaha kerja sungguh-sungguh menyempurnakan usaha adalah
bentuk ikhlas, karena motif kita bukan cuma uang gaji atau dari marah si
Bos, tapi karena memberi kontribusi positif itu adalah sesuatu yang selaras
dengan perintah Tuhan. Kita ikhlas dalam menempuh usaha untuk menjalani
kehidupan. Kalau kita dihadapkan pada dilema mengambil barang haram atau
meninggalkannya (dengan resiko kita kelaparan), lalu kita memilih
meninggalkannya karena perintah Tuhan, ini juga bentuk ikhlas (karena yakin
rizki itu dariNya). Kita ikhlas dengan kesempatan dan jalan rizki yang
diberikan. Kalau hasil usaha kita tidak sesuai, maka kita rela dan niat akan
berusaha lebih baik dan lebih cerdas untuk selanjutnya. Kita ikhlas dengan
hasil kerja keras kita.
Jadi bedanya nganggur dengan kerja sangatlah tipis, yaitu sebuah tujuan
produktif. Banyak orang tampak nganggur, namun dia sebenarnya sedang
merancang sesuatu dalam pikirannya. Ini bekerja namanya. Sebaliknya banyak
orang tampak sangat sibuk, namun sebenarnya hanya pelarian dan kamuflase
saja. Ini pura-pura kerja namanya. Alva Edison, pendiri General Electric,
bilang,
Being busy does not always mean real work. The object of all work is
production or accomplishment and to either of these ends there must be
forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as
perspiration. Seeming to do is not doing. (Edison)
Seeming to do is not doing. Tampak giat bukanlah kerja. Hanya ketika ada
tujuan produktif dari kegiatan tersebut barulah disebut bekerja. Makanya
kita sering jengkel dengan orang yang rajin masuk kantor hanya untuk
duduk-duduk dan ngerumpi hingga sore. Sibuk tapi tidak bekerja.
Setipis itu pula bedanya bekerja dengan beribadah. Ketika kita menambahkan
niat yang benar dalam kita bekerja, maka nilai pekerjaan itu menjadi
berlipat ganda, dunia dan akhirat. Kalau begitu kita harus niat terus
sepanjang waktu dong? Tidak juga, selama hari itu dimulai dengan Bismillah,
dan kemudian yang kita lakukan sepanjang hari itu selaras dengan perintah
Allah (tidak maksiat, tidak berbuat jahat, tidak menyakiti orang lain, tidak
mengambil yang haram, dsb), maka keseluruhan kegiatan hari itu (termasuk
mandi pagi, lari-lari mengejar bis, dll) menjadi ibadah bagi orang tersebut.
Niat itu dimulai saat awal, lalu dijaga saja sepanjang hari, maka kerja
menjadi ibadah.
Nganggur, kerja, ibadah, sama capeknya beda hasilnya. Nganggur tidak
mendapatkan apapun, kerja mendapat hasil dunia, ibadah mendapat dunia
akhirat.
PS: Ngeblog pun sama saja. Kalau ngeblog tanpa tujuan maka nilainya sama
dengan pengangguran, kalau diberi tujuan yang produktif (berbagi ilmu
misalnya, atau jualan) maka bernilai kerja, dan ketika ditambahkan niat
tulus (membagi ilmu untuk menebar manfaat bukan sekedar mencari ketenaran
diri, jujur tidak manipulatif, dll) maka dia menjadi ibadah. Baca blog pun
sama saja. Kalau hanya iseng maka itu namanya pelarian pengangguran, kalau
ditambahkan tujuan produktif (menambah ilmu, menambah kenalan, belajar) maka
dia berfungsi seperti bekerja (perusahaan layak membayar internet untuk
karyawan seperti ini), dan kalau ditambahkan niat tulus untuk ibadah
(menjauhkan diri dari maksiat, pilih-pilih blog yang bermanfaat, dll) maka
membaca blog pun adalah ibadah. Menguntungkan bukan? Small thing can make a
big difference!
Sumber: Dari pemilik blog yang belum diketahui namanya (jika ada yang merasa mengetahui/memiliki tulisan ini, tolong beritahukan kami, agar kami dapat menambahkan sumber penulisnya
Last update : 29-01-2009 09:42
|
|
|