Home
Friday, 12 March 2010
Search the Web
Who's Online
We have 2 guests online
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
The IEF
What They Said

DR. Bambang N Rachmadi (Pemilik Mc Donald Indonesia)

"Untuk Valentino.. Dengan nama seperti ini Kamu seharusnya menjadi THE BEST di Bidangnya seperti Valentino Rossi, Valentino Fashion, dan sebagainya. SEMOGA"

Puspo Wardoyo (Pemilik Wong Solo)

"Dalam perjuangan bisnis, tirulah apa-apa yang pernah saya sampaikan."

Tung Desem Waringin (Indonesia Authorized Anthony Robbins & Robert Kiyosaki)

"Buku WAJIB untuk orang DAHSYAT"

Prof. Dr. Usman Chatib Warsa (mantan Rektor Universitas Indonesia)

"... Sebuah karya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia entrepreneurship di Indonesia. Kami percaya buku tersebut merupakan buku yang sangat bagus dan baik untuk dibaca dan diketahui isinya oleh mereka yang sangat ingin sukses dan kaya ..."

Tanri Abeng

Valentino The Most presticious people

Tukul Arwana

Manusia yang satu ini memang gila... kesan itu yang saya tangkap

Moh. Fahmi (Penulis)

"Pak Valentino, saya saat ini sedang membaca buku anda: 'Jangan Mau Seumur..' comment saya Par Execellent
 
Visitor Counter
Today94
Yesterday102
Week514
Month1433
All123748

(C) Fliesenstadt
Click to join LetsGoIndonesia

Click to join LetsGoIndonesia

Shoulmet dalam berbisnis PDF Print E-mail
 

By Posted by admin under bisnis, on 19-05-2008 08:00

Views : 1134    

Favoured : 53

Published in : Channel Highlight, Enterpreneur


rabbani Memulai usaha dari nol, bangkrut, hingga dikejar-kejar polisi. Pasang surut perjalanan usahanya secara otodidak membuat ia menemukan konsep pengelolaan bisnis yang mampu menumbuhkan semangat karyawannya untuk rela berkorban. Berawal pada 1991, sesaat setelah Amry Gunawan menikah, pria keturunan Aceh ini menggadaikan mas kawin perhiasan emas milik sang istri pada mertuanya. Atas izin istrinya, didapatlah modal sebesar 100 ribu rupiah. Kegiatan mengisi pengajian-pengajian mahasiswa, ia selingi dengan berjualan quran kecil impor (madinah), dan pcrnik-pernik lain yang kala itu belum banyak digeluti. Bisa dibilang, ia termasuk pioner dengan pasar pengajian-pengajian untuk dacrah Bandung, Sumedang, hingga Garut. Berburu dari Pasar Baru Jakarta, mushaf mungil yang ia beli seharga 3000 bisa dijual 10.000 rupiah. Sciring dengan permintaan pasar dan mulai bermunculan majalah islami, Amry mcnambah jualannya dengan majalah, buku-buku dan Jilbab. Ia juga memasok ke bazaar-bazaar di kampus. Pria yang saat itu masih kuliah di sastra arab Unpad ini, mengambil cara promosi yang jarang dipakai orang pada masa itu. Rumah kontrakannya yang terpencil di Haur Mekar, Dipati Ukur Bandung, dijadikan `markas’ usahanya memberi denah peta agar orang mudah mencarinya. Brosur berisi promosi barang jualan dengan potongan harga tinggi ia sebar di beberapa masjid yang scring dikunjungi orang” “Barangnya ga ada, promosinya gedegedean… Pokoknya saya menjamin orang pesan apa, saya usahakan barang itu ada. Saya perantarakanlah.. Antara pembeli dengan produsennva,” tutur Amry Gunawan terscnyum simpul. Lucu juga, saat pembeli pertama datang ke rumah kosnnya yang berukuran 3×4m, tiada barang apapun di sana. Berkat usaha Amry meyakinkan orang tersebut, dan kegigihannya mencari barang-barang pesanan, ia mulai menuai hasil. Mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Bandung, kerap mendatanginya setiap kali kampus mereka mengadakan bazaar. la juga mcmiliki banyak partner sehingga usahanya makin maju. “Saat itu, pernak pernik islami masih jarang,”kenangnya.Pada 1993, istrinya Nia Kurnia bertanggung jawab pada bidang administrasi. la bersama-sama rekan-rekannya menggeluti bisnis buku dan penerbitan. di bawah nama “Pustaka Rabbani”. Saat Pustaka Rabbani mulai maju, rekan-rekannya memilih untuk mandiri. Mcreka tidak mau bcrjoin lagi dan memilih untuk berjalan sendiri-sendiri agar bisa mcndapatkan kcuntungan lebih. Sedang ia berpikir untuk memilih membangun komunitas bisnis agar scmakin kuat. Dari sana, mulailah dibangun usaha baru yang hanya dikelola oleh Amry berdua dengan istrinya. Nia mulai menjahit dan membuat pola jilbab dan baju. Amry membantu ke tukang rollbis dan obras di pasar Balubur, Bandung, karcna mcreka belum memiliki mesin obras. Berkat ketekunannya berkeliling dari pasar ke kampus, Amry menuai hasil secara perlahan. Pada tahun 1994, Amry mulai menjual produk buatan orang lain. Saat itu Pula, ia berkesempatan membeli sebuah rumah di jalan Gagak, Surapati dengan harga miring. 14 tumbak, hanya saharga 10 juta. Rumah itu menjadi pusat produksi sekaligus markas usahanya. Usaha busana dan jilbab menjadi tanggung jawab istrinya secara mandiri. la mulai merckrut orang. Popok bcrlabcl “Jundi” menjadi salah satu garapan usahanya. Saat itu ia juga bekerjasama dengan seorang rekanan asal Belanda, dan memasarkan produknva hingga ke luar negeri. Dari popok, ia mulai memperluas membuka usaha bank perkreditan rakyat (BPR) dengan konsep syariah. Nasabahnya cukup banyak. Namun, karena masalah persaingan dalam tim bisnis tersebut, ia memilih mengalah dengan menyerahkan pengelolaan usaha pada rekannya. Namanya masih tertera dalam izin perusahaan tersebut. Perjalanan usaha Amry tak mulus begitu saja. Usaha yang sudah ia tinggalkan, yang secara hukum memakai namanya, berhutang sekitar 2 milyar. Nasabah memburu, ia pun harus berurusan dengan polisi. Teman-teman yang mengelola usaha tersebut kabur, tinggal Amry sendiri menanggung belitan hutang. “Kudeta bisnis, ceritanya. Awalnya saya berpikir silahkan saja untuk kepentingan umat. Namun, setelah rugi saya ditinggalkan…,” seloroh Amry. Rumahnya scmpat didatangi 800 orang nasabah yang menuntut ganti rugi. Saat itu, Amry tidak di rumah dan istrinnya yang menemui. “Serbu saja! Saya yakin suami saya nggak salah,” tantang Nia tak gentar saat menghadapi ratusan massa yang marah. Peristiwa itu mengharuskan Amry keluar masuk pengadilan. Berada dalam kondisi tak menentu dan menunggu putusan, menempa Amry untuk makin arif dalam memaknai hikmah kehidupan. Selama 3 tahun, ia akhirnya mendapatkan putusan bebas, namun harus membanyar semua kerugian nasabah. Setelah kejadian itu, Amry kembali bergabung pada bisnis yang digeluti Istrinya. la kembali ke masa-masa lalu di mana usaha yang mereka lakoni adalah usaha keluarga. Sepasang suami istri berputra tujuh ini, lebih berkonsentrasi pada CV Rabbani Asyisa yang bergelut dalam bidang konveksi busana muslim dan pernak perniknya. Jika sebagian orang bisa mendapatkan team work yang memperkuat bisnis dari hubungan pertemanan, tidak demikian dengan Amry. Dua kali `ditinggalkan’ partner bisnis membuat Amry lebih berhati-hati. `Soulmate’ bisnisnva ternyata pada istrinya. Rabbani mempunyai konsep unik dalam penerapan manajemen usaha. Amry menyebutnya `manajemen jihad’. Justru, team work sejatinya ada di sana. Manajemen Jihad Perjuangan keras Amry dalam dunia bisnis membuat ia menemukan konsep pengelolaan yang dirasa tepat untuk memajukan Rabbani. Setelah 2 tahun Amry menyebutnya dengan `manajemen jihad’. “Keberhasilan kita adalah pada saat karyawan kita berhasil. Di sini kita menerapkan UMZ, upah minimun zakat. Penghasilan karyawan disesuaikan dengan batas minimum jumlah pembayaran zakat profesi. Agar mereka bisa menyisihkan uangnya untuk zakat,” terang ayah dari tujuh orang putera ini tentang manajemen jihad gaya Rabbani. Anda tentu tahu, upah minimum regional (UMR) untuk daerah Bandung dan sekitarnya sekitar Rp 650 ribu. Sopir, kasir, pelayan hingga penjahit di Rabbani dibayar dengan batas terendah Rp 1,5 juta setiap bulannva. “Itu sudah berlaku sejak usaha kita masih berupa industri konveksi di rumahan,” sebut Amry yang hingga Rabbani sudah berubah menjadi bisnis garmen tetap berusaha meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Kini Rabbani memiliki tiga cabang toko di Bandung, Depok dan Jatinangor yang umumnya dekat dengan lingkungan kampus. la mengupayakan setiap karyawannya memiliki multi skill yang selalu di up-grade setiap bulannya. Setiap paginya, Rabbani mengadakan kajian kewirausahaan, agama, hingga pengetahuan umum hagi karyawannya. Setiap masuk waktu sholat fardhu, karyawan diserukan untuk meninggalkan sejenak pekerjaannya dan menunaikan sholat berjamaah secara bergantian. Mencapai keberhasilan manajemen jihad, bukan tanpa pengorbanan. Perkembangan usaha Rabbani kian buruk pada Juli-Agustus 2004 lalu, bertepatan dengan masa-masa kampanye presiden Indonesia. Omzet yang setiap bulannya mcncapai ratusan juta rupiah setiap bulannya menyusut hingga 60%. Agar tetap bertahan, ia memutuskan untuk harus melakukan perubahan radikal terhadap usaha tersebut. Berbagai permasalahan yang dihadapi, dirembukkan bersama seluruh karyawannya. Keputusan-keputusan yang diambil perusahaan, tak lepas dari peranan seluruh orang yang ada dalam perusahaan tesebut untuk bangkit memajukan usaha yang sedang terguncang. Namun, ia juga harus rela ditinggalkan beberapa karyawannya. Imbasnya, ada karyawan yang merangkap menjadi sopir dan satpam dalam mengisi posisi yang kosong, sebagian lainnya harus rela lembur hingga malam menyusun neraca keuangan tanpa bayaran tambahan. Karyawannya sempat tidak bisa digaji, karena dana yang perusahaan tersebut miliki habis untuk membeli kain dan bahan baku lain. Semuanya bisa diatasi. Bahkan, sebuah bank menawari modal tambahan ketika ia sudah menyelesaikannya. kini, Rabbani memiliki sekira 150 orang di pabriknya, dan 20 orang di beberapa gerainya. “Kita sedang melihat peluang untuk waralaba. Kita sedang minta bantuan. Mudah-mudahan bisa menyebar dengan cepat,” papar Amry mengenai rencana kemajuan usahannya. Amry juga mulai merambah ke bisnis properti. la mulai menggarap beberapa rumah tinggal yang ia punyai untuk dirombak senyaman mungkin. kemudian ia jual kembali. Semuanya, tak lepas dari manajemen jihad yang ia lakoni. Satu muara bagi seluruh usahanya,

Last update : 20-05-2009 17:40

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.8 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
CHANNEL HIGHLIGHTS
Enterpreneur
Motivasi
Bisnis
Legal
Spiritual
Internet Marketing

Entrepreneur ‘s Coach Corner
Need some advise? Ask your question to an expert

Valentino Dinsi, MM, MBA
Expert di bidang entrepreneurrship dan pengembangan bisnis baru serta inventor bagi pegawai yang ingin jadi pengusaha
 

TERANYAR
AYO MANDIRI
TRADING HOUSE
inpsipringbox
Random Quotes

Seseorang tidak akan mencapai darjat kesolehan, kecuali melalui enam rintangan: menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan, menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesukaran, menutup pintu istirehat dan membuka pintu perjuangan, menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga, menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kemiskinan, menutup pintu harapan dan membuka pintu bersiap menghadapi maut

Ibrahim bin Adham

SANG MAESTRO
PENGUSAHA MANDIRI