Home
Sunday, 01 August 2010
Search the Web
Who's Online
We have 32 guests online
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
The IEF
What They Said

DR. Bambang N Rachmadi (Pemilik Mc Donald Indonesia)

"Untuk Valentino.. Dengan nama seperti ini Kamu seharusnya menjadi THE BEST di Bidangnya seperti Valentino Rossi, Valentino Fashion, dan sebagainya. SEMOGA"

Puspo Wardoyo (Pemilik Wong Solo)

"Dalam perjuangan bisnis, tirulah apa-apa yang pernah saya sampaikan."

Tung Desem Waringin (Indonesia Authorized Anthony Robbins & Robert Kiyosaki)

"Buku WAJIB untuk orang DAHSYAT"

Prof. Dr. Usman Chatib Warsa (mantan Rektor Universitas Indonesia)

"... Sebuah karya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia entrepreneurship di Indonesia. Kami percaya buku tersebut merupakan buku yang sangat bagus dan baik untuk dibaca dan diketahui isinya oleh mereka yang sangat ingin sukses dan kaya ..."

Tanri Abeng

Valentino The Most presticious people

Tukul Arwana

Manusia yang satu ini memang gila... kesan itu yang saya tangkap

Moh. Fahmi (Penulis)

"Pak Valentino, saya saat ini sedang membaca buku anda: 'Jangan Mau Seumur..' comment saya Par Execellent
 
Visitor Counter
Today110
Yesterday140
Week1029
Month110
All141398

(C) Fliesenstadt
Click to join LetsGoIndonesia

Click to join LetsGoIndonesia

customer :


Bookmark and Share
AMPUHNYA PERASAAN “SAYA JUGA BISA!” PDF Print E-mail
 

By Edy Zaqeus, on 21-03-2009 08:00

Views : 921    

Favoured : 75

Published in : Channel Highlight, Motivasi


ImagePada acara workshop penulisan yang diselenggarakan oleh Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) pertengahan Juni 2007 lalu, saya kembali mendengar suatu komentar spontan dan sederhana dari salah seorang peserta, “Ah, kalau menulis seperti itu sih aku juga bisa. Bahkan, mungkin aku bisa menulis yang lebih bagus, gitu lho!”. Saat saya mewawancarai Ade Kumalasari, seorang penulis novel-novel teenlit (baca di rubrik Wawancara Pembelajar.com), saya juga mendapatkan kalimat-kalimat yang kurang lebih sama. Ketika membaca novel-novel remaja yang tampak sederhana dan populer, muncul perasaan “Kalau cuman begini, saya juga bisa!” dalam benak penulis ini. Ternyata, perasaan itu justru memacu Ade untuk belajar menulis novel sejenis dan kemudian terbukti sejumlah novel berhasil dia terbitkan.

Sesungguhnya, saya sudah seringkali mendengar ungkapan perasaan “Saya juga bisa!” itu dari sekian banyak orang, termasuk sahabat-sahabat wartawan, penulis, pembaca seri artikel saya, juga klien-klien yang pernah saya tangani. Bahkan, saya pun teramat sering mendengar ungkapan itu dari sebuah “sumber” yang teramat sangat dekat dengan diri saya. Sumber itu tak lain adalah suara hati saya sendiri. Setiap kali saya membaca buku-buku yang berhasil di pasaran, saya selalu mendengar bisikan hati, “Ah, kalau cuman begini aku juga bisa....”

Saya kira, kita semua mungkin pernah sekali dua kali merasakan hal yang sama. Mungkin juga, sebagian dari kita malah begitu digelayuti oleh perasaan serupa, manakala kita temukan sebuah karya yang mengusik perhatian. Terlebih bila kita merasa bahwa pengalaman, kompetensi, dan keahlian kita di bidang tertentu itu, “seharusnya” bisa menandingi atau bahkan mengalahkan keunggulan karya tersebut.

Perasaan “Saya juga bisa!” ini tumbuh liar saat saya masih mahasiswa. Semakin “jelek” sebuah karya yang saya kritisi (pastinya menurut penilaian subjektif saya), semakin kuat pula perasaan bahwa saya bisa membuat karya yang lebih baik. Hanya saja, praktiknya saya tidak berbuat apa-apa untuk menandingi karya yang saya kritisi.

Baru belakangan ini saja saya merasakan betapa perasaan “negatif” tersebut aslinya mempunyai daya dorong yang luar biasa. Ya, ketika perasaan “Saya juga bisa!” itu saya lanjuti dengan membuat karya—yang dibelit oleh obsesi menjadi lebih baik dari yang sudah ada—maka saya merasa telah menjawab sesuatu. Tidak peduli apakah secara objektif karya yang saya lahirkan itu lebih baik atau justru lebih jelek, yang penting tantangan harus dijawab dulu.

Latihan memang membuat kita matang. Praktik terus-menerus bisa menyempurnakan keahlian. Itu juga berlaku di dunia penulisan. Ketika saya mulai bisa bergerak atau termotivasi oleh perasaan “bisa”, dan saya lanjuti dengan tindakan sekali dua kali atau bahkan berkali-kali, maka saya benar-benar jadi “bisa” juga akhirnya. Saat saya mencapai titik “bisa” ini, maka kenikmatannya memang tak terlukiskan. Ini bisa memacu motivasi lebih besar lagi.

Meskipun tidak tampak di permukaan, namun saya yakin tak sedikit di antara kita yang mampu melakukan sesuatu yang luar biasa berawal dari perasaan “Saya juga bisa!”. Namun, tak sedikit pula dari kita yang hanya berhenti pada perasaan itu, dan kembali merasa “tersinggung” manakala ada karya-karya yang mendahului pencapaian kita. terlebih bila karya-karya itu lahir dari orang yang kita anggap tidak “selevel” dengan kita.

Namun, saya mengajak Anda semua para pembelajar sejati, untuk terus mengundang perasaan “Saya juga bisa!”. Tapi, jangan berhenti di situ saja. Ambil selangkah dua langkah konkret untuk menghasilkan sesuatu. Singkirkan sejenak ego-ego yang tidak memberikan kontribusi bagi lahirnya sesuatu yang berarti. Sebaliknya, paksa ego-ego positif yang bisa memacu kita untuk unjuk karya. Tulisan adalah ajang unjuk karya yang luar biasa.

Sekecil apa pun langkah kita, sepanjang itu merupakan buah dari proses kreatif, maka itu pasti punya makna. Lupakan penilaian orang luar terlebih dulu. Tempatkan perasaan menghargai karya sendiri di posisi teratas. Sesudah itu memberikan motivasi dalam diri, mulailah berani memasuki ranah publik. Di sanalah penilaian yang objektif dan subjektif akan bertarung, dan dari sana pula pembelajaran berlangsung. Di medan pembelajaran itulah kita akan menjadi dewasa, secara mental dan karya.

Makanya, selama perasaan “Saya juga bisa!” hadir dalam diri Anda, saya tantang Anda semua untuk terus-menerus unjuk karya. Penuhi ranah publik ini dengan gagasan-gagasan orisinal dan karya-karya Anda. Manakala Anda berhasil berkarya, tularkan semangat Anda kepada siapa pun yang bergaul dengan Anda. Jadikan diri Anda sebagai agen-agen penggerak bagi lahirnya karya-karya kreatif. Ingat, poros penggerak dunia ini adalah orang-orang yang terus aktif berkarya dengan passion yang luar biasa. Dan, Anda adalah salah satunya!

Last update : 19-03-2009 17:51

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 

Display 1 of 1 comments

139361d3d790

By: (Guest) on 09-03-2009 15:08

139361d3d790

By: (Guest IP 94.23.18.212) on 09-03-2009 15:08

QdIcO Very interesting article :)

 

» Report this comment to administrator

» Reply to this comment...

Display 1 of 1 comments



Add your comment
Name
E-mail
Title  
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
   
   



mXcomment 1.0.8 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
CHANNEL HIGHLIGHTS
Enterpreneur
Motivasi
Bisnis
Legal
Spiritual
Internet Marketing

Entrepreneur ‘s Coach Corner
Need some advise? Ask your question to an expert ! klik disini

Valentino Dinsi, MM, MBA
Expert di bidang entrepreneurrship dan pengembangan bisnis baru serta inventor bagi pegawai yang ingin jadi pengusaha
 

AYO MANDIRI
inpsipringbox
Random Quotes

Pertahanan terbaik terhadap fitnah adalah kebenaran. Orang yang terbuka tak pernah takut mengatakan semuanya pada dunia.

anonim

SANG MAESTRO
PENGUSAHA MANDIRI