Dalam sebuah diskusi yang diadakan sebuah event organizer, muncul pertanyaan yang hampir selalu saya akrabi setiap kali bertemu dengan orang yang ingin membuka usaha. "Pak, saya tertarik untuk jadi pengusaha... Ide Bapak menarik.... Wah, saya pengen usaha ini nii..." Tapi, ujung-ujungnya, kemudian berbagai pertanyaan tadi dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan klasik,
"Cuma, saya belum punya modal, bagaimana ya?"
Brand (merek) didefinisikan oleh American Marketing Association sebagai sebuah nama, tanda, simbol, desain atau kombinasi kesemuanya dengan tujuan memberikan identitas seorang figur atau perusahaan dan membedakan barang dan jasa yang diproduksi dari kompetitornya. Bahkan pakar brand terkemuka David Aaker mengatakan bahwa merek bukan hanya bentuk fisik dari merek saja, tetapi merek dibentuk oleh sifat dari merek itu sendiri. Merek juga sangat berhubungan dengan identitas perusahaan.
ZAMAN semakin maju, dan waktu terasa cepat. flu barangkali, yang kita rasakan saat ini. Maka, agar kita tidak ketinggalan zaman, sebaiknya entrepreneur harus lebih mampu bergerak cepat. Lebih proaktif, dan berani mengambil risiko. Dengan dernikian, kita akan lebih mudah mengantisipasi kemungkinan munculnya berbagai kendala bisnis yang mungkin terjadi. Bukan, bersikap seperti dulu, yang hanya reaktif dan menghindari risiko.
Saya jadi teringat dengan Rupert Murdoch, yang melangkah cepat dalam bisnisnya. Pada saat boss perusahaan lainnya masih terlelap tidur, ia selalu menjadi penelpon pertama untuk inelakukan negosiasi bisnis. Dengan bergerak cepat, ia mampu mengambil keputusan lebih cepat dan pesaingnya. Bagi Murdoch, bergerak lamban adalah milik mereka yang kalah. Langkah semacam ml, saya kira menux~ukkan, jika kim tidak bertindak dan bergerak, tnaka bisnis yang kita geluti sekarang akan sulit bergerak xnaju. Karena, pada dasamya, bergerak adalah awal kesuksesan bisnis kita.
Hanya orang yaug berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.
PERNYATAAN John. F. Kennedy ini ada benarnya. salah satu dari kami, membuktikannya. Gagal total, itu karier bisnis , Purdi E.Chandra dalam bukunya “Menjadi Entrepreneur Sukses” bertutur : “Akhir 1981, merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan sayameninggalkan kampus. Saat itu saya pikir, gagal meraih gelar sarjana, tapi bukan berarti gagal mengejar cita-citanya. Tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama. Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Pada awalnya, sepi peminat, cuma dua orang! Saat ini, wow, peminatnya membludak, sampai-sampai Primagama membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia”.
Tekun, mengerahkan segenap daya, dan masih gagal juga. Apa yang harus kita lakukan?
Saat gagal menimpa, kendati lelah dan kecewa berat, jangan matikan energi kreatif Anda. Tetaplah berpikir kreatif. Sempurnakan produk yang ada, atau hasilkan produk baru atau usaha baru yang mungkin belum terpikirkan.
Jangan terpaku pada karier dan keterampilan yang dimiliki, yang terlalu lama bersandar pada lingkungan di mana kita dibesarkan atau selama ini bergulat. Kadang kala apabila seseorang gagal setelah berusaha dengan tabah dan mengerahkan sepenuh tenaga untuk sekian lama, mungkin tiba saatnya ia mengkaji kembali bidang yang digeluti dan menilai apakah ia mampu untuk mendapatkan apa yang dinginkannya di bidang tersebut.