Kesukesan akan menjerumuskan kita, kalau kita terlalu bangga.
ROBERT T. Kiyosaki dalam bukunya “Cash Flow Quadrant” berpendapat, bahwa sebenarnya sukses itu guru yang jelek. Tapi itu berlaku untuk diri kita sendiri. Artinya, sebagai entrepreneur, kita memang sebaiknya tidak berguru pada kesuksesan kita sendiri. Sebab, hal itu akan membuat kita menjadi kurang bersemangat, menjadi tidak kreatif, menjadikan kita lengah atau sombong, menjadikan kita lupa diri, bahkan tak menutup kemungkinan kesuksesan yang kita raih akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Sukses itu, menurut saya, bukan berarti “waktunya untuk menikmati”.
Rekan saya dari New York suatu ketika pergi ke Indonesia untuk membentuk tim
programmer buat bisnisnya di Amerika. Dia percaya tenaga Indonesia itu
handal dan berkualitas, sementara biaya memang relatif jauh lebih hemat
dibandingkan di Amerika. Pekerjaan bisa dikirim lewat internet, karena
kebetulan data yang dibutuhkan berbentuk digital. Ketika proses mewawancara
para pelamar, dia memberikan pengantar yang menekankan perbedaan bekerja
saja dengan bekerja sebagai ibadah. Dia adalah muallaf yang taat.
Kira-kiranya begini terjemah bebasnya (dia ngomong dalam bahasa Inggris, dan
kami manggut-manggut pura-pura ngerti), ³Sekedar bekerja, dengan bekerja
sebagai ibadah itu sama capeknya. Seorang programmer sibuk bekerja keras
hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya. Dan programnya mungkin juga
tidak jalan. Programmer lain juga bekerja keras hingga malam, sampai hampir
pecah kepalanya, namun dia berniat kerja sebagai ibadah. Hasilnya program
mungkin juga tidak jalan, tapi dia mendapatkan pahala dari kerja kerasnya
tersebut. Sama-sama kerja keras, sama-sama capek, tapi hasilnya berbeda.²
Begitulah kira-kira yang dia sampaikan waktu itu, saya agak lupa persisnya,
tapi kira-kira begitulah isinya.
KENAPA AKU DIUJI ?"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
-Surah Al-Ankabut ayat 2-3-
Muhammad Rasulullah, Nabi kita tercinta, adalah seorang saudagar ternama pada zamannya. Bahkan sejak usia muda, beliau dipandang sebagai sudagar sukses. Disadari atau tidak sukses tersebut tidak
lepas dari aktivitas marketing yang diterapkannya --yang tak Cuma ampuh tapi juga sesuai syariah dan, tentu saja, penuh ridlo dari Allah. Jika Anda tertarik menerapkannya, selain mendapat keuntungan, insyaallah bisnis Anda pun barokah. Inilah empat tips marketing a la Nabi:
Sering kali saat kita bangun pagi begitu membuka mata pikiran kita sudah terbebani oleh berbagai masalah. Seperti; pekerjaan kantor yang masih tertunda, janji yang belum ditepati, target penjualan yang belum tercapai. Dan mungkin timbul perasaan kecewa, stres, marah pada diri sendiri atau orang lain yang masih tersimpan dalam hati. Atau mungkin juga masalah percintaan, keluarga, keuangan, penyakit dan berbagai macam problem lainnya.
Jika begitu bangun pagi pikiran kita sudah terkondisikan oleh beban seperti itu maka besar kemungkinan sepanjang hari yang akan kita jalani terasa begitu berat, menderita, dan jauh dari perasaan senang dan bahagia.
Alangkah bijak jika kita begitu bangun pagi menyongsong hari yang baru dengan membiasakan diri untuk sejenak bersyukur dan berdoa dengan menyingkirkan sementara semua masalah. Melalui hati yang penuh syukur kita akan mendapatkan kesegaran dan kesehatan mental serta pikiran positif untuk menghadapi kehidupan hari ini dengan berani dan menyenangkan.